Jumat, 02 April 2010

TREND DALAM AKUNTANSI



Nama Kelompok :
Evi Purnamadewi ( 20206329 )
Indri Mandasari ( 20206476 )
Megi Wulan Rahayu ( 20206604 )
Melly Amalia Putri ( 20206610 )
Sugesti Tyas Utami ( 20206948 )
Ayu Ratna Selviani ( 21206178 )
Asti Febi Anita ( 21206229 )
Vonny Angelia ( 21206010 )


Universitas Gunadarma
2009
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusunan tugas ini dapat diselesaikan.
Tugas ini disusun untuk diajukan sebagai tugas mata kuliah Teori Akuntansi dengan judul “Trend Dalam Akuntansi” .
Terima kasih disampaikan kepada Ibu Mujiyani,SE.,MM selaku dosen mata kuliah Teori Akuntansi yang telah membimbing dan memberikan kuliah demi lancarnya tugas ini.
Demikianlah tugas ini disusun semoga bermanfaat, agar dapat memenuhi tugas mata kuliah Teori Akuntansi.







Bekasi, 19 Maret 2010


Penulis

DAFTAR ISI

Kata pengantar 2
Daftar isi 3
Trend Akuntansi 4
Beberapa Topik Baru dalam Akuntansi 7
Akuntansi Perilaku 14
Multidicipline Paradigm 16
Akuntansi dan Pembangunan Berkelanjutan 18
Efficiensi Market Hypotesis 20
Krisis Akuntansi Masa Depan 22






Tren dalam Akuntansi
A. Pengantar
Akuntansi sebagai ilmu terus beradaptasi dengan lingkungan social ekonomi di mana ia berada sehingga perkembangan social ekonomi juga memengaruhi perkembangan ilmu akuntansi itu sendiri. Teori akuntansi merupakan guidance yang mengarahkan perkembangan itu sendiri sehingga tetap berada dalam kerangka teoritis yang sudah disepakati, kendatipun dengan terjadinya revolusi ilmu pengetahuan seperti yang digambarkan oleh Kuhn maupun Poppe dari biasa saja muncul perkembangan yang sama sekali keluar dari kerangka teori yang sudah menjadi konvensi.
Dalam bab ini akan membahas beberapa tren dalam akuntansi yang merupakan arah yang kemungkinan akan dituju oleh ilmu akuntansi atau bias saja tidak sampai mencapainya. Namanya tren hanya menunjukkan kecenderungan yang dilihat saat ini. Kenyatannya akan terbukti kemudian. Tugas akademisi dan professional adalah untuk bermimpi, melihat, menganalisis, dan ikut mengembangkan tren itu sehingga konvensi dan menambah manfaat ilmu itu membantu masyarakat secara luas.
B. Tren Akuntansi
Adolf J.H. Ethoven (1995) dalam Accounting Research Monograph No.5 dengan judul Mega Accounting Trends, bedasarkan mega Trend 2000-nya Naisbitt, ia merefleksikan megatrend akuntansi akan menghadapi persoalan sebagai berikut.
1. Perlunya akuntansi memberikan pengukuran efisiensi dan produktivitas.
2. Perlunya keterpaduan akuntansi dengan bidang dan disiplin lainnya.
3. Perlunya mengidentifikasi, mengukur, dan melaporkan informasi yang lebih relevan.
Kualitas relevan sudah menjadi ciri akuntansi, namun sampai saat ini kualitas ini belum dapat dinilai tercapai.
Kemudian, untuk mengantisipasi tren tersebut di atas, Enthoven menganjurkan penyempurnaan infrastruktur akuntansi agar bisa memenuhi tuntutan tren itu.
1. Penyempurnaan system pendidikan, pelatihan, dan riset dalam bidang akuntansi.
2. Struktur dan persyaratan sosio ekonomi dan budaya.
3. Persyaratan legal, status, dan persyaratan lainnya dalam profesi akuntan.
4. Praktik profesi dan kelembagaan akuntansi.


Tren yang dibuat Ethoven ini teranjak dari Megatrend-nya Naisbitt yaitu:
1. Dunia akan bergerak dari ekonomi nasional ke ekonomi global.
2. Dasar pemikiran orang akan beralih dari skup jangka pendek ke skup jangka panjang.
3. Ciri masyarakat kita akan beralih dari masyarakat industry ke masyarakat informasi.
4. Struktur organisasi akn berubah dari yang bersifat hierarki dengan inti kekuasaan ke struktur organisasi yang bersifat jaringan atau net-working, kekuasaan sudah tidak dikedepankan lagi.
5. Pilihan semakin banyak sehingga masyarakat beralih dari dua pilihan ke pilihan banyak.
6. Pertumbuhan ekonomi akan beralih dari dunia bagian utara ke bagian selatan.
7. Keterlibatan politik masyarakat akan beralih dari demokrasi perwakilan ke democrasi partiisipasi.
8. Dari bantuan institusi ke mandiri
9. Kemajuan teknologi akan beralih dari teknologi keras ke teknologi lunak.
10. Kekuasaan akan beralih dari sebtralisasi ke desentralisasi.
Kesepuluh shift inilah yang dijadikan dasar oleh Enthoven untuk memprediksi pengaruh tren itu ke dalam profesi dan bidang ilmu akuntansi.

Hubungan antara tren itu dengan megatrend akuntansi dapat dilihat pada bagan di atas:
Dari keadaan ini dapat kita tarik garis atau benang merah bahwa tren atau kecenderungan kea rah mana akuntansi menuju sesuai dengan perkembangan tuntutan masyarakat adalah menuju suatu sifat yang lebih bernuansa sosial, etis, lebih relevan, dan bertanggung jawab.
Lee Parker maupun profesi akuntan Australia dari konferensi internasional yang dilakukannya pada tahun 1994 menunjukkan arah akuntansi yang semakin bertanggung jawab. Masyarakat pada dasarnya menginginkan akuntansi yang memberikan informasi yang adil dan benar yang hakikatnya adalah pertanggungjawaban. Dari fenomena ini dapat disimpulkan bahwa kecenderungan ilmu akuntansi harus searah dengan tuntutan masyarakat itu.
Berbagai skandal korporasi yang melibatkan akuntansi belakangan ini semua kian menuntut akuntan yang bertanggung jawab.
Bagaimana profesi akuntan menyikapi tren ini? Dan bagaimana kita di tanah air? Siapa yang harus bertanggung jawab untuk menjadi pionir? Semua pertanyaan itu terpulang kepada mereka yang terlibat menjalankan roda organisasi lainnya yang terkait.
Megatrends 2010
Baru-baru ini keluar buku Megatrends 2010 yang ditulis oleh Patrice Aburdene (2005). Beliau mengemukakan paling tidajk ada tujuh kecenderungan bisnis yang tentu nantinya akan mempengaruhi profesi akuntansi. Dan Teori akuntansi ke 7 Megatrend adalah:
1. Kekuatan Spiritual (the Power of Spirituality);
2. Munculnya Kapitalisme yang sadar (the Down of Conscious Capitalism);
3. Pemimpin lahir dari level tengah (Leading from the Middle);
4. Bisnis Spiritual (Spirituality in Business);
5. Konsumen berbasis Nilai (The Value-Driven Consumer);
6. Gelombang Solusi Kesadaran (The Wave of Conscious Solutions);
7. Boomnya investasi pada perusahaan yang memiliki tanggung jawab social (The Socially Responsibility Investment boom).
Dari ke-7 megatrend ini baru trends no.7 yang mulai ditanggapi oleh profesi akuntansi. Dalam teori dan standar akuntansi yang belum memberikan pedoman yang tetap. Megatrend lainnya sama sekali belum terlihat arah dan penunjuk untuk memenuhinya. Misalnya bagaimana peran akuntansi mengukur, mencatat atau melaporkan asek nilai-nilai, spiritualisme dan sebagainya. Entah nanti akuntansi syariah bisa memberikan alternative. Penelitian bidang ini tentu sangat dibutuhkan untuk pengembangan teori akuntansi sehingga profesi ini tidak ditinggal jauh dan bahkan bisa menjadi dinosaurus.
C. Beberapa Topik Baru dalam Akuntansi
Perkembangan terakhir yang masih terus menjadi bahan riset dan pengembangan bidang akuntansi yang menjadi tren di antaranya adalah:
1. Akuntansi internasional atau akuntansi global;
2. Akuntansi Islam;
3. Akuntansi Sumber Daya Manusia;
4. Triple entry accounting system;
5. Employee Reporting;
6. Value Added Reporting;
7. Akuntansi Perilaku;
8. Multi Diciplines Paradigm;
9. Akuntansi dan Pembangunan Berkelanjutan;
10. Efficient Market Hypothesis (EMH);
11. Krisis Akuntansi.
Topic tiga pertama sudah disinggung di beberapa bab sebelumnya dan dalam bab ini kita akan membahas poin 4 dan seterusnya.

1. Triple Entry system
Kalau dahulu kita mengenal single entry, double entry maka sekarang kita mengenal triple entry. Dalam system ini transaksi dicatat dalam tiga dimensi. Model ini bukan saja transaksi yang memengaruhi pos-pos pada sisi aktiva dan pasiva yang dilaporkan, tetapi juga force atau power yang menyebabkan sehingga laporan neraca misalnya menyajikan Wealth = Capital = Force. Triple entry memiliki force account yang mencatat beberapa factor antara lain perubahan harga, perubahan jumlah, atau perubahan volume terhadap arus hasil dan biaya. Misalnya jika harga suatu barang naik maka akan dibuat perkiraan force. Demikian juga kalau terjadi perubahan volume dan jumlah. Informasi yang dilaporkan melalui model ini disebut force statement. Nanti akan ada tiga jenis laporan wealth statement, capital statement, dan force statement. Wealth statement melaporkan kekayaan perusahaan (A-L) sedangkan capital statement melaporkan komposisi dan perubahan modal di mana informasi laba rugi dimasukkan di dalamnya. Sementara itu, force statement memuat informasi perubahan kekayaan juga, tetapi yang dipengaruhi oleh kenaikan atau penurunan laba saja. Force statement ini akan didampingi oleh laporan variance analysis yang merinci komponen fixed dan varibel.
Model ini sebenarnya merupakan upaya untuk menambah informasi kepada pembaca khususnya pihak manajemen dan para pengambil keputusan yang berkepentingan dengan laporan keuangan perusahaan. Triple entry sistem ini juga menjelaskan margin-variance, volume variance, dan efficiency variance. Ketiga metode ini akan menghasilkan angka yang sama. Bisa juga mencatat aspek nilai daya beli yang dicatat sehingga pembaca mendapatkan informasi tentang daya beli atau dampak inflasi terhadap perusahaan.
Dalam Studies in Accounting Research yang ditulis Yuji Ijiri yang disponsori AAA menyatakan bahwa kalau double entry itu berdimensi dua maka triple entry ini berdimensi tiga jadi sebenarnya merupakan penyempurnaan dari system double entry. Bagi yang berminat mendalami ini dapat dibaca Studies in Accounting Research No.18. yang ditulis Yuji Ijiri (1982).
2. Employee Reporting
Semakin besarnya kekuatan menawarkan serikat pekerja di Barat, khususnya di Eropa menimbulkan fenomena baru dalam tuntutan akan laporan keuangan yang dapat menggambarkan informasi yang dibutuhkan oleh kaum pekerja. Pegawai selaku salah satu dari stakeholders juga berhak akn informasi keuangan. Informasi keuangan seperti inilah yang disebut Employee reporting. Employee reporting merupakan bentuk laporan keuangan yang memuat informasi yang relevan bagi karyawan atau serikat pekerja. Employee reporting sangat berkembang d USA dan Eropa pada khususnya. Bahkan telah diterapkan di beberapa Negara seperti anggota Organization of Economic Cooperation and Development (OECD) seperti USA, Canada, Jerman, Perancis, Denmark, Norwegia, Swedia, dan United Kingdom (Belkaoui, 1995).
Beberapa hal yang mendesak dan mendorong perlunya employee reporting ini adalah (Purdy dalam belkaoui, 1985):
1. Tekanan semakin besar akan perlunya full disclosure;
2. Praktik dan masalah yang berkaitan dengan hubungan perburuhan;
3. Munculnya perdebatan tentang demokratisasi perusahaan;
4. Perkembangan di Negara lain akan perlunya informasi dimaksud.
Di samping tentunya semakin kuatnya organisasi pekerja di planet ini. Keharusan perusahaan memasukkan informasi yang dibutuhkan karyawan dan serikat pekerja telah diatur oleh berbagai Negara, seperti di Jerman, 1972, Prancis, 1979, Swedia, USA, dan Kanada.
Beberapa informasi pennting yang diminta dilaporkan dalam employee reporting ini adalah:
- Jumlah pegawai;
- Lokasi tempat bekerja;
- Umur karyawan;
- Jam kerja;
- Biaya tebaga kerja;
- Program pension;
- Program jaminan social, kecelakaan kerja, kesehatan, hari tua;
- Pelatihan dan pendidikan atau adanya career path;
- Pengakuan terhadap serikat pekerja;
- Daftar karyawan berdasarkan agama, suku, bangsa, kelamin;
- Dan sebagainya.
Dari suatu survey laporan keuangan kepada karyawan sejak tahun 1919 sampai 1979 diketahui beberapa alasan pelaporan sebagai berikut (Lewis, et. Al 1984)
a. Menyampaikan perubahan.
b. Menyajikan propaganda manajemen.
c. Mempromosikan kepentingan memahami masalah dan prestasi perusahaan.
d. Menyampaikan keputusan manajemen.
e. Menyampaikan hubungan antara karyawan, manajemen, dan pemegang saham.
f. Menjelaskan tujuan perusahaan.
g. Mendorong partisipasi karyawan yang lebih besar.
h. Merespons tekanan legislative atau serikat pekerja.
i. Membangun imej perusahaan.
j. Memenuhi ketentuan UU tentang pengungkappan informasi yang dibutuhkan karyawan.
k. Merespon kekhawatiran manajemen terhadap berbagai tuntutan pegawai, maupun persaingan.
l. Menunjukkan perhatian besar terhadap karyawan.

3. Value Added Reporting
Value Added Reporting (VAR) atau Laporan Pertambahan Nilai berkaitan juga dengan Human Rresources Accounting dan Employee Reporting terutama dalam hal informasi yang disajikannya. Value Added Reporting ini masih belum diwajibkan sebagai laporan utama di berbagai Negara, jadi masih dalam tahap wacana akademik. Value Added Reporting ini sebenarnya menutupi kekurangan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan utama, Neraca, Laba Rugi, dan Arus kas. Karena semua laporan ini gagal memberikan informasi:
1. Total produktivitas dari perusahaan;
2. Share dari setiap stakeholder atau anggota tim yang ikiy dalam proses manajemen yaitu, pemegang saham, kreditor, pegawai, dan pemerintah (Belkaoui, 1995).
Kalau laporan kkeuangan konvensional menekkankan informasinya pada laba maka VAR menekankan pada upaya meng-generate kekayaan atau nilai tambah. Karena laba biasanya hanya menggambarkan hak atau kepentingan pemegang saham saja bukan seluruh tim yang ikut terlibat dalam kegiatan perusahaan. Value Added adalah kenaikan nilai kekayaan yang digenerate atau dihasilkan dengan penggunaan asset produktif dari seluruh sumber-sumber kekayan perusahaan oleh seluruh tim yang ada termasuk pemilik modal, karyawan, kreditor, dan pemerintah. Sebenarnya konsep dasar dari VAR ini sudah dikenal dalam ilmu ekonomi terutama dalam perhitungan Pendapatan Nasional. Namun, perlu diingat bahwa value added tidak sama dengan laba. Laba menunjukkan pendapatan bagi pemilik saham sedangkan pertambahan nilai mengukur kenaikan kekayaan bagi seluruh stakeholders. Laporan Pertambahan Nilai jangan pula disamakan dengan Pajak Pertambahan Nilai.
Isi Laporan Pertambahan Nilai
Sebenarnya Laporan Pertambahan Nilai ini adalah modifikasi dari Laporan Laba Rugi sehingga pada dasarnya dapat disusun dengan menggunakan laporan laba rugi ini. Langkah yang di ikuti dalam menyusun laporan pertambahan nilai dari laporan laba rugi adalah (Belkaoui, 1995):
Langkah 1:
Disini dihitung Laba Ditahan yang didapat dari Hasil Penjualan dikurangi Biaya, Pajak, Dividen, atau:
Penerimaan Penjualan Rp ……….
Dikurangi:
Pembelian Barang dan Jasa Rp ……….
Penyusutan Rp ……….
Biaya karyawan Rp ……….
Biaya Bunga Rp ……….
Dividen Rp ……….
Pajak Rp ……….
Total Pengurangan Rp ………
Laba Ditahan Rp ……….


Langkah 2:
Laporan Pertambahan Nilai ini dapat dosusun dari data di atas dengan format sebagai berikut:
Penerimaan Penjualan Rp ……….
Dikurangi: Pembelian Barang dan jasa Rp ……….
Pertambahan Nilai Kotor Rp ……….
Pertambahan Nilai ini dirinci sbb:
Penyusutan Rp ……….
Biaya karyawan Rp ………
Biaya bunga Rp ……….
Dividen Rp ……….
Pajak Rp ……….
Total Pertambahan nilai Rp ……….
Beberapa kegunaan dari Value Added Reporting ini dapat disebut sebagai berikut:
a. Konsep ini dinilai objektif sehingga dianggap sebagai informasi yang abash sebagai dasar perhitungan reward.
b. Pertambahan nilai kotor merupakan informasi yang sangat berguna untuk memgetahui angka reinvestasi (laba ditahan dan penyusutan).
c. Laporan ini dianggap dapat menjembatani kepentingan akuntansi danekonomi dengan jumlah kekayaan dalam pengukuran pendapan nasional.
d. Pertambahan nilai bersih bisa menjadi dasar distribusi kekayaan bukan pertambahan nilai kotor:
1. Pertambahan nilai bersih sangat cocok menjadi dasar perhitungan bonus produktivitas tenaga kerja dengan memberikan penyisihan pada perubahan modal.
2. Dengan mengurangi biaya penyusutan akan menghindari double counting yang bisa terjadi jika ada pertukaran aktiva antara dua perusahaan.
3. Pertambahan nilai bersih sangat menguntungkan bagi konsep laba untuk semua.
4. Mestinya remunerasi karywan tidah hanya berasal dari gaji, tetapi juga kenaikan kekayaan, ini konsep baru dalam dunia bisnis modern.
5. Dapat menjadi media peramalan yang baik bagi peristiwa ekonomi yang dapat mempengaruhi kesehatan perusahaan.
6. Sangat cocok untuk ekonom dalam perhitungan pendapatan nasianal.
7. Dapat menilai proporsi masing-masing terhadap niali tambah sehingga dapat mendorong keadlian.
Namun, di samping keunggulannya ada juga beberapa keterbatasan Laporan Pertambahan Nilai ini, yaitu sebagai berikut:
a. Tidak semua pihak yang terlibat dalam menghasilkan pertambahan nilai itu merasa senang bekerja sama dengan yang lain.
b. Ada kemungkinan dengan adnya laporan pertambahan niali ini manajemen salah tanggep seolah ingin memaksimasi pertmabhan niali.
c. Kesalahan penafsiran terhadap pertambahan nilai dapat menimbulkan kepalsuan pendapat seperti :
1. Kenaikan pertambahan nilai dianggap kenaikan laba;
2. Kenaikan pertambahan niali per unit dianggap otomatis bermanfaat bagi pemegang saham;
3. Seolah dianggap bisa mengidentifikasi distribusi yang adil atas perubahan pertambahan niali;
4. Pertambahan nilai yang tinggi untuk tenaga kerja per unit dianggap meruapakan prestasi ekonomi yang baik;
5. Share tenaga kerja yang besar atas pertambahan nilai tidak berhak mendapatkan gaji yang tinggi.
4. Akuntansi Perilaku
Aspek budaya dalam akuntansi disebut juga behavioral accounting. Di sini diperhatikan berbagai budaya yang dapat memengaruhi peran atau hasil dari interaksi antara informasi akuntansi dengan perilaku konsumennya atau penyajiannya. Dengan perkataan lain, berkaitan dengan hubungan antara perilaku manusia dan system akuntansi baik dalam bidang akuntansi keuangan maupun akuntansi manajemen. Bahkan ini dianggap sebagai bidang (cabang) akuntansi yang khusus (Siegel, Ramanauskas-Marconi, 1989). Bidang akuntansi ini dimulai dikembangkan pada awal tahun 1950-an. Pada tahun 1951 the Controllership Foundation of America mensponsori penelitian untuk mengetahui pengaruh budget terhadap manusia. Riset ini dilakukan oleh Cornell University dengan dipimpim oleh Chris Argyris. Penelitian ini telah memberikan beberapa rekomendasi tentang beberapa perilaku yang muncul dalam penerapan budget. Hasil riset ini muncul di Harvard business Review yang ditulis oleh Argyris dengan judul Human Problems with budget. Sejak itu maka banyak ahli menjadi pemerhati dan menjadi peneliti akuntansi perilaku ini seperti Mayo, Maslow, Mc Gregor, Likert.
Dalam akuntansi perilaku ini yang menjadi sorotan adalah dampak dari informasi akuntansi terhadap perilaku orang yang membaca atau menyiapkannya. Juga melihat bagaimana reaksi manusia terhadap informasi yang akuntansi yang diberikan. Dampak perilaku dari system budget terhadap prilaku, dampak system responsibility accounting terhadap oerilaku, dampak system desentralisasi ataupun sentralisasi pengambilan keputusan terhadap perilaku, dimensi perilaku dalam system pengawasan internal, beberapa pola perilaku auditor, aspek perilaku dalam proses pengambulan keputusan, factor perilaku dalam kebutuhan pengungkapan, aspek perilaku dalam akuntansi sumber daya manusia, dan sebagainya. Lebih simple Siegel, Ramanauskas, dan Marconi (1989) membaginya atas tiga bagian besar berikut ini.
1. Pengaruh perilaku manusia terhadap desain, kontruksi, dan penggunaan system akuntansi.
2. Pengaruh system akuntansi terhadap perilaku manusia.
3. Metode untuk meramalkan dan strategi untuk mengubah perilaku manusia.


5. Multidiscipline Paradigm
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengakibatkan semakin munculnya paradigm baru yang pada akhirnya menimbulkan ketergantungan dan keterkaitan yang semakin erat antara satu disiplion ilmu dengan disiplin ilmu lainnya. Fenomena ini juga melanda akuntansi.
Mulanya ilmu yang dikenal manusia adalah ilmu filsafat. Menurut Al-Farabi, ilmu filsafat adalah ilmu pengdetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya (Anshari, 1991). H.Endang Saifuddin Anshari (1991) mengubgkapkan ilmu itu kemudian berkembang menjadi tiga bidang.
a. Ilmu Pengetahuan Alam (Natural science):
1. Biology
2. Antropologi fisik
3. Kedokteran
4. Farmasi
5. Pertanian
6. Ilmu Pasti
7. Ilmu Alam
8. Teknik
9. Geologi, dan lain-lain.
b. Ilmu Sosial (Social Science):
1. Ilmu Hukum
2. Ekonomi
3. Jiwa Sosial
4. Bumi Sosial
5. Sociology
6. Antropologi Sosial Budaya
7. Sejarah
8. Politik
9. Pendidikan
10. Publisistik dan Jurnalistik
11. Dan lain-lain.
c. Humaniora (Humanities Science):
1. Ilmu Agama
2. Ilmu Filsafat
3. Ilmu bahasa
4. Ilmu seni
5. Ilmu Jiwa (psikologi)
Ilmu ekonomi yang merupakan bagian dari ilmu social berkembang menjadi berbagai disiplin ilmu seperti :
1. Ekonomi Mikro dan Makro
2. Ilmu Manajemen
3. Oembangunan
4. Pemasaran (marketing)
5. Produksi (production)
6. Keuangan (finance)
Ilmu manajemen berkembang lagi menjadi berbagai disiplin ilmu seperti; Akuntansi, Business Policy, budgeting, Planning, Operating Research, Information System, dan lain-lain.
Akuntansi kemudian berkembang lagi seperti: Akuntansi Keuangan, Akuntansi Manajemen, Teori Akuntansi, Sejarah Akuntansi, Akuntansi Internasional, Controllership, Sistem Pengawasan Manajemen, Auditing, dan sebagainya.
Perkembangan ilmu di masing-masing bidang ini selalu berkaitan erat dan saling mengisi dengan disiplin ilmu lain. Contoh yang paling menarik adalah munculnya ilmu decision science. Ilmu ini tampaknya mengkristal sebagai gabungan dari berbagai disiplin ilmu seperti akuntansi, computer, information system, expert system, decision science, mathematic, dan management science.
Akuntansi sebagai suatu system informasi membutuhkan computer, information science, dan decision science. Akhirnya muncullah ilmu baru seperti decision science yang sumberformula dan elemen-elemennya berasal dri ilmu tadi. Decision science ini merupakan disiplin ilmu baru di Amerika dan bahkan sudah menjadi salah satu jurusan yang popular di College of Business, fenomena inilah yang disebut Multidicipline paradigm.
Fenomena ini menarik karena Nampak sekali bahwa lengah sedikit saja dalam pengembangan ilmu itu kita akan ketinggalan ditelan kemajuan disiplin lain. Oleh karena itu, pengembangan disiplin dan profesi akuntansi di tanah air jangan sampai lengah dan terlambat mengantisipasi perubahan ilmu dan teknologi yang demikian cepat.
Dalam megatrend akuntansi Enthoven diharapkan akuntansi lebih memikirkan perndekatan terpadu dengan disiplin ilmu lainnya.
6. Akuntansi dan Pembangunan Berkelanjutan
Dilaksanakannya “Earth Summit” mangingatkan kita pada isu yang sama di ajukan oleh Club of Rome tahun 1975 yang lalu yaitu Konsep Limit to Growth atau sering juga disebut Zero Growth. Club para ahli nomor wahid ini menganggap bahwa kerusakan bumi timbul dari kombinasi dari berbagai factor yang harus direm perkembangannya seperti perkemabangan penduduk, investasi, kkonsumsi sumber alam, industry, ketidakadilan distribusi pendapatan, pertanian, kehutanan. Club ini ingin menyelamaykan masa depan umat manusia dengan mengingatkan kita perlunya keharmonisan pengelolaan ekosistem yang bersfat global dan dependen. Subbab ini ingin mencoba menjelaskan perlunya alat ukur untuk memudahkan para pengambil keputusan dalam memanaje masalah pembangunan, lingkunagn, dan aspek social ekonominya.
Akuntansi sebagai Alat Ukur
Sebenarnya akuntansi diam-diam mempunyai perangkat penting dalam mengamankan pembangunan bumi yang aman. Namun, para teknokrat barangkali belum tahu dan mungkin tidak terpikir untuk memanfaatkannya. Bekas presiden Bank Dunia A. W. Clausen pernah mengeluh bahwa karena ketiadaan aat yang dapat mencatat, mengukur, dan melaporkan posisi kejadian, dampak industry (pembangunan) kepada masyarakat, menimbulkan kesukaran kita mengawasi dampak itu. Ia menyebutkan:
Saya mengakui salah satu alasan dari respons kita yang tidak lengkap terhadap permasalahan social adalah isu kualitas hidup yang membingungkan dan penyebab utama kkebingungan itu adalah kekurangan atau karena “kasarnya” bentuk dan kualitas pengukuran (May 1971).
Keluhan beliau ini sebenarnya dapat diatasi oleh disiplin akuntansi sebagai satu instrument measurement of quality. Para ahli akuntansi sejak awal athun 1930-an sebenarnya sudah melakukan pengkajian yang intensif tentang bagaiman mencatat, mengukur national income, social accounting, dan dampak social yang diakibatkan oleh industry, perusahaan, atau kegiatan pembangunan. Ini tidak berbeda dengan apa yang dibicarakan dalam KTT Bumi tersebut. Dalam pengertian lingkungan termasuk di dalamnya manusia, flora, fauna, air, lahan, dan segala isinya.
Untuk mengelola setiap suatu masalah perlu keputusan-keputusan. Keputusan yang baik hanya dapat lahir dari analisis terhadap keadaan yang valid, factual, dan relevan. Keadaan yang factual, valid, dan relevan dapat disupply oleh akuntansi. Dalam akuntansi disiplin yang mensupply ini disebut environment accounting. Disiplin ini secara, teori-teorinya belum sepenuhnya disepakati oleh sebagian besar para ahli akuntansi dan organisasi profesi. Bidang ini sampai saat ini masih terus menjadi ladang penelitian para ahli dan secara parsial, ada yang sudah diwajibkan dan ada yang masih dalam taraf dianjurkan penyajiannya dalam laporan keuangan.
Perlunya Akuntansi Lingkungan
Keperluan akan akuntansi lingkungan ini sebenarnya sudah jelas. Konsep yang menganggap bahwa perusahaan sebagai wadah hukum yang melakukan eksploitasi dalam suatu wilayah dan Negara dan mendapatkan keuntungan dari kekayaan alam wilayah itu, mestinya juga menjadi penduduk yang baik, yang melindungi alamnya dan juga makhluk pengisinya. Filosofi ini jelas dan rasional. Sebuah industry sebenarnya hidup dari lingkungan. Ya factor alam, tenaga kerja, makhluk lainnya yang mendiami bumi. Adalah etis seandainya perusahaan itu juga yang tergantung dengan makhluk lain sebagai penduduk bumi ikut bertanggung jawab melindungi bumi dari setiap kerusakan lingkungan yang kalau tidak dijaga akhirnya akan merusak dia sendiri sehingga tidak dapat dilakukan pembangunan berkelanjutan atau pembangunan berwawasan lingkungan.

Kesulitan Pengukuran
Kesulitan utama dari akuntansi bidang ini adalah ketidaksepakatan para ahli dalam menentukan criteria pengukuran. Mengukur nilai kerusakan lingkungan, nilai social cost maupun social benefit-nya tidak semudah yang dibayangkan. Contohnya kasus Cernobyl, kasus Union Carbides, dan lain sebagainya menunjukkan betapa sukarnya melakukan penetapan nilai kerusakan dan perbaikan lingkungan yang sama-sama diterima dan sesuai pula dengan prinsip akuntansi yang sudah baku.
Penyajian
Dari berbagai konsep yang diajukan lembaga dan para ahli ada yang menganjurkan metode penyajian: penjelasan dalam laporan keuangan (footnote disclosure, narrative disclosure), membuat pos tersendiri, laporan khusus tentang kerusakan lingkungan, Social Responsibility Report, Environment Exchange Report, Social Income Statement Report, Compherensive Social Benefit Cost Model, dan Multidimensional Income Statement. SEC biasanya mengharuskan perusahaan yang listed di bursa New York Stock Exchange untuk melaporkan hal-hal yang bertalian dengan masalah lingkungan, dan social cost dan benefit lainnya.
7. Efficient market Hypothesis
Sebenarnya topic ini bukan baru apalagi tren, karena isu ini sudah lama kenal dalam akuntansi. Dalam akuntansi dikenal teori atau hipotesis EMH (Efficient Market Hypothesis). Teori EMH ini menyatakan bahwa “Pasar akan menyesuaikan diri dengan setiap informasi baru yang dikeluarkan mengenai saham.” Dalam bahasa penelitian bidang penelitian yang menyangkut soal ini adalah positive accounting teory. Dalam teori ini yang dibahas bukan bagaimana mencatat transaksi, tetapi menyangkut:
a. Melihat hubungan antara pengumuman informasi akuntansi kepada public dan reaksi pasar terhadap informasi itu yang dilihat dari indicator harga saham di bursa;
b. Melihat pengaruh perubahan kebijakan akuntansi terhadap harga pasar.
Fama (1969) menyatakan bahwa beberapa syarat untuk menciptakan pasar yang efisien adalah sebagai berikut:
a. Tidak ada biaya transaksi dalam perdagangan saham.
b. Semua informasi tersedia secara Cuma-Cuma bagi semua peserta pasar.
c. Semua sepakat terhadap implikasi informasi saat ini terhadap harga sekarang dan distribusi harga masa yang akan dating dari tiap saham.
Menurut Fama informasi ada tiga set informasi:
a. Gerakan harga saham masa lalu;
b. Informasi yang tersedia bagi public;
c. Seluruh informasi baik uang tersedia bagi public maupun milik perusahaan.

Ketiga set informasi di atas dapat memengaruhi harga saham sebagai berikut.
a. Bentuk lemah (weak form) dari sham efisien. Di sini harga pasar saham pada periode tertentu secara penuh merupakan refleksi dari informasi yang berasal dari harga harga saham masa lalu. Di sini tidak ada strategi dagang berdasarkan siklus harga, pola harga atau peraturan lainnya.
b. Bentuk semi kuat (semistrong) di mana harga saham secara penuh merupakan gambaran dari seluruh informasi yang tersedia kepada public termasuk harga saham masa lalu. Di sini juga tidak ada strategi dagang yang dipakai dalam perdagangan saham.
c. Bentuk kuat (strong form) di mana harga saham merupakan gambaran dari seluruh yang ada baik informasi harga saham yang lalu, informasi yang tersedia untuk public dan informasi lainnya seperti informasi dari dalam dan informasi pribadi nlainnya.
Dari ketiga bentuk ini maka bentuk semistrong-lah yang paling relevan dengan akuntansi karena dasar informasinya adalah informasi yang tersedia bagi public.
Dalam EMH sering digunakan Capital Assets Princing Model (CAPM). Yang dimaksud dengn model CAMP ini adalah suatu model yang menaksir laba yang abnormal atau laba yang tidak diperkirakkab dari saham biasa suatu perusahaan pada saat diumumkannya laba perusahaan. Bentuk semistrong juga dipakai dalam model ini.
8. Krisis Akuntansi Masa Depan
Walaupun profesi akuntan dinilai mengalami perkembangan yang demikian cepat, bukan berarti profesi ini tidak menunjukan hal-hal yang bersifat suram. Disamping itu, akuntansi tidak hanya memberikan informasi kuantitatif, tetapi juga informasi kualitatif. Akuntansi konvensional juga sedang menjadi sorotan khususnya ketidakmampuannya memberikan informasi yang relevan pada situasi di mana prinsip stable monetary unit tidak berjalan seperti masa inflasi.
Akuntansi konvensional juga mendapat tantangan dari akuntansi islam, akuntansi pertambahan nilai, akuntansi sumber daya manusia,dan pelaporan pegawai. Berbeda dengan akuntansi kovensional , akuntansi islam lebih menekan pada aspek pertanggungjawaban dengan penekan pada keadilan dan kebenaran, bukan saja mengabdi kepada kepentingan pemegang saham saja, tetapi juga semua pihak dan menaati semua hokum syriah. Fenomena ini menunjukan ketidakpuasan terhadap akuntansi konvensional jika tidak ditanggapi akan dapat menimbulkan krisis kepercayaan terhadap konvensional saat ini.
Akuntansi manajemen juga dapat mempengaruhi eksistensi akuntansi keuangan. Fungsi akuntansi keuangan selama ini menekan pada kepentingan public yang terkait dengan standar yang ditetapkan oleh organisasi profesi atau regulator sehingga relevansinya terhadap kepentingan manajemen kurang. Akuntansi manajemen dianggap memberikan informasi yang lebih relevan untuk kepentingan pengambilan keputusan. Menurut penelitian proses penurunan porsi penerimaan kantor akuntan dari jasa audit semakin lama semakin menurun dan fungsi atau jasa konsultasi justru semakin meningkat.
Ketentuan itu adalah sebagai berikut :
a. Kantor akuntan hanya boleh memberikan jasa information technology (IT) dan konsultasi lainnya jika Komite Dewan Audit menerimanya.
b. Auditor independen akan dinilai apakah investor yang biasa akan melihat ada tidaknya konflik.
c. Auditor tidak dapat melakukan tugas internal auditing melebihi 40%.
d. Perusahaan harus mengungkapkan berapa mereka membayar untuk biaya audit, konsultasi, dan jas pajak.

a. Krisis Akuntansi Menurut Lev
Menurut Lev, akuntan bukan a good eyesight. Apalagi jika ingin melaporkan hal-hal yang berkaitan dengan aktiva tidak berwujud seperti : ide, merek, cara kerja, goowill, franchises. Lev mengambil contoh, didalam standart dan poor 500,500 perusahaan memiliki rasio market to net value perusahaan (yang terdapat di neraca) lebih besar dari 6. Ini berarti bahwa angka neraca yang di-supply oleh akuntansi keuangan hanya menggambarkan 10-15% dari nilai perusahaan. Pada tahun 1929 rasio modal intangible business yang cukup spektakuler. Produk intangible asset dapat berupa :
1. Aktiva yang dikaitkan dengan produk inovasi atau hasil R & D.
2. Aktiva yang dikaitan menjual dengan merek (brand) perusahaan dengan mana perusahaan menjual mereknya. Misalnya nike, reebok, mc Donald, dunhill;
3. Aktiva structural yaitu kemampuannya melebihi perusahaan lain selaku kompetitornya;
4. Monopoli, perusahaan yang menikmati hak hal monopoli.
b.Krisis menurut Belkaoui
Pada tahun 1989 Belkaoui menulis buku dengan judul The Coming Crisis in Accounting yang membahas krisis akuntansi yang mungkin muncul dari hal-hal sebagai berikut :
1. Profesi Akuntan
Dalam profesi akuntan terjadi penurunan remunerasi, penurunan jumlah tenaga kerja, peningkatan porsi jasa konsultasi dan pengurangan jasa akuntan/auditing. Akuntan yang selama ini dianggap borjius justru menjadi proletar. Di samping itu, ada juga anggapan bahwa akuntan sebetulnya bukan tergolong sebagai profesi karena ketidakmampuan menjadi independen dan otonom dari langganannya dan kehilangan monopolinya atas jasa informasi akuntansi yang saat ini banyak di-supply oleh IT.
2. Kecurangan dalam lingkungan akuntansi
Kecurangan adalah tindakan criminal. Banyak tindakan kecurangan yang dilakukan korporasi maupun kecurangan yang melibatkan akuntan khususnya melalui laporan keuangan. Public menganggap meningkatnya kecurangan ini tidak lepas dari kegagalan profesi akuntan. Bahkan di tanah air akuntan sering juga dicap”tukang angka” yang bias menentukan jumlah laba atau rugi perusahaan. Kasus factual telah banyak terjadi mendukung anggapan ini sehingga akuntan berada di ambang krisis.
3. Menurunnya work load dalam proses akuntansi
Karena kemajuan computer, tugas-tugas akuntansi sudah bias dilakukan oleh software yang user friendly sehingga tidak memerlukan keahlian akuntansi lagi. Dengan demikian, beban kerja dari seorang ahli akuntan semakin terbatas yang akan menimbulkan krisis profesi akuntan.
4. Iklim organisasi dikantor akuntan
Kantor akuntan adalah fakultas kedua setelah fakultas ekonomi. Kantor akuntan hanya sebagai batu loncatan untuk memasuki dunia bisnis lain yang lebih menggiurkan. Bahkan turn over perpindahan kerja, di kantor akuntan cukup tinggi, career path tidak jelas, job description yang tidak tegas, semakin kabur, dan bahkan semakin tingginya konflik internal dalam kantor akuntan itu sendiri. Bahkan jasa yang akan dibolehkan diberikan oleh akuntan semakin di atur dan dibatasi seperti baru-baru ini diberlakukan oleh SEC di USA, di mana akuntan tidak bias bebas memberikan beberapa jasa pada perusahaan yang sama karena dianggap mengurangi independensi.
5. Problema produksi ilmu pengetahuan dalam akuntansi
Ilmu pengetahuan paling tidak saat ini dari proses akademik sedangkan akuntansi adalah kebutuhan profesi yang berkembang secara praktik dalam dunia bisnis. Sering terjadi antara hasil proses ilmu pengetahuan dari proses akademik sering tidak match atau tidak sesuai dengan keinginan atau kebutuhan dunia praktik sehingga terjadi gap antara dunia akademis dengan dunia profesi. Banyaknya keluhan ditemukan pasar bahwa apa yang diajarkan di bangku kuliah tidak relevan dengan apa yang diinginkan pasar atau user dari tenaga akuntan yang dihasilkan perguruan tinggi itu. Jika hal ini berjalan terus maka akuntansi juga akan mengalami krisis.
Disamping itu, semua Belkaoui (2006) mempertanyakan apakah akuntan itu benar sebagai profesi atau tidak . Menurut beliau paling tidak ada persyaratan jika ingin disebut sebagai suatu profesi, yaitu :

a. Memiliki disiplin ilmu pengetahuan
b. Otonom dalam melaksakan profesinya
c. Memiliki perasaan solidaritas kelompok yang paling setia
d. Bias mengatur sendiri praktik
e. Memerlukan izin praktik
f. Memiliki kekuasaan atas langganannya
g. Memiliki kode etik.
Menurut Belkaoui akuntan saat ini tidak memiliki otonomi yang cukup kepada langganan dalam melaksanakan profesinya dan tidak memiliki kekuasaan atas langganan. Kemudian, dengan berkembangnya ilmu computer maka kompleksitas profesi menjadi berkurang akibat kemampuan computer menyabot sebagian besar fungsi akuntan terutama dalam penyajian laporan keuangan. Dari sini Belkaoui menyimpulkan bahwa akuntansi berada dalam situasi apakah sebagai”yang tidak murni profesi” atau berada pada proses bertahap”deprofessionalisasi”.
c.Skandal Korporasi
Skandal korporasi ini sebenarnya bukan hal yang baru. Sejarah menunjukan bahwa manusia dengan segala kemajuan dan perangkat social yang dimilikinya sudah didesain untuk menghindari kemungkinan skandal itu. Skandal korporasi itu ada yang menggunakan teknik akuntansi. Skandal korporasi yang terjadi belakangan ini terungkap, umumnya menyangkut skandal akuntansi. Bahkan skandal ini sempat meruntuhkan salah satu kantor akuntan besar Arthur Anderson di Amerika dan mengubah system pertanggungjawaban korporasi di Amerika. Untuk mengasi itulah tidak kurang presiden George bush jr melakukan pidato dan mengujungi NYSE dan pada tanggal tangga 30 juli 2002 UU Corporate Accountability telah diundangkan. UU ini diharapkan untuk dapat mengembalikan kepercayaan public terhadap perusahaan Amerika yang sudah jatuh akibat berbagai skandal yang terjadi belakangan ini. UU itu mencakup sebagai berikut :
1. Peningkatan hukuman bagi pelaku kecurangan dan pemusnahan dokumen
2. Mewajibkan CEO dan CFO perusahaan public untuk membuat pernyataan mengenai keakuratan laporan keuangan serta bertanggung jawab jika terjadi kecurangan
3. Mewajibkan SEC menunjukan badan pengawasan yang bekerja purna waktu dan mendisiplinkan akuntan public pasar modal
4. Mencegah KAP memberikan jasa konsultasi kepada perusahaan yang dia audit, menghentikan setiap kecenderungan pertentangan kepentingan
5. Melarang pinjaman pribadi dari perusahaan kepada pimpinan puncak dan direksi dan mewajibkan orang dalam perusahaan memberikan informasi kepada SEC sesegera mungkin jika terjadi pembelian atau penjualan saham perusahaan.
Respon Amerika terhadap skandal besar 2002 ini cukup cepat kendatipun kemungkinan terjadinya kasus serupa di masa yang akan datang masih mungkini. Sejauh ini memang skandal keuangan akibat kesalahan akuntansi belum banyak terungkap karena dinaungi besarnya KKN.
d.Alternatif Akuntansi Konvensional
Skandal besar dalam korporasi belakangan ini yang mempengaruhi industry keuangan, pasar modal, investor, profesi dan karyawan menurut Bazerman et.al (2002) tidak lepas dari tindakan korupsi, kriminalitas dari akuntan yang tidak memiliki etika yang memalsukan angka-angka, melakukan penyelewengan baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk melindungi kliennya. Hal ini tidak terlepas dari factor “unconscious bias” yang berasl dari sifat subjektif dari akuntansi itu sendiri serta hubungan yang sangat erat antara akuntan public dan langganannya.
Akuntansi kapitalisme dinilai dituduh hanya sebagai bentuk kesadaran palsu yang memistikkan. Akuntansi dituduh bukan memberikan informasi yang benar tentang hubungan social yang harmonis. Ia hanya membungkus kepentingan ekonominya dalam symbol efisiensi, laba rugi, produktifitas, dan sebagainya (Harahap,1993). Dalam diri disiplin akuntansi konvensional itu sendiri lahir beberapa konsep yang keluar dari mainstreamnya seperti munculnya socio economic accounting, environmental accounting, employee reporting, human resoures accounting, value added reporting, Islamic aceounting.Current Cost accounting (Belkaoui, 1984, Harahap, 2003).
e.Bazerman
Menurut Bazerman (2002) akuntan itu memiliki unconscious bias, sesuatu bias yang terjadi tanpa disadarinya disebabkan adanya “self serving bias”. Self serving bias ini muncul disebabkan enam factor psikis : (1) ambiguity dari ilmu akuntansi karena banyaknya persoalan yang memerlukan pertimbangan dan kebijakan subjektif ; (2) attachement, terhadap kepentingan nasabah karena akuntan ditunjukan dan dibayar oleh perusahaan; (3) approval, di mana akuntan selalu cenderung menerima dan menyetujui judgment perusahaan; (4) familiarity merupakan sifat di mana kita mengutamakan membela kenalan daripada orang asing yang belum dikenal; (5) discounting di mana orang cenderung merespons akibat yang akan muncul segera dan menunda risiko yang masih lama; (6) escalation merupakan kecenderungan untuk menyembunyikan atau mengabaikan hal-hal yang bersifat minor. Auditor pada akhirnya ikut menerima laporan keuangan yang disusun oleh manajemen perusahaan.
f.Albrecht dan Sack
Albrecht dan Sack (2000) melakukan penelitian yang sangat intens tentang nasib pendidikan akuntansi di USA dan mereka menyimpulkan bahwa profesi ini tengah mengalami bahaya disebabkan tiga factor:
1. Jumlah dan kualitas mahasiswa yang memilih jurusan akuntansi menurun secara drastic. Mereka menganggap profesi ini tidak bernilai tinggi lagi dalam bekerja di dunia bisnis.
2. Praktisi dan akademis akuntansi yang ingin melanjutkan studi memilih jurusan yang bukan akuntansi.
3. Tokoh akuntan dan praktisinya menyatakan bahwa pendidikan akuntansi yang sekarang sudah kuno, rusak, dan perlu diubah secara signifikan.
Memang situasi ini belum memasuki profesi di tanah air tetapi biasanya gelombangnya akan merambah praktisi di Negara lain karena sector ekonomi dan bisnis dikuasai oleh Amerika.
g.Akuntansi dan UKM dan Dunia Ketiga
Desain dari akuntansi yang saat ini dikenal terutama yang diajarkan di perguruan tinggi lebih banyak untuk kepentingan perusahaan besar dan perusahaan yang terdaftar di pasar modal. Padahal sebagian besar perusahaan banyak tergolong perusahaan kecil dan titik terdaftar di pasar modal sehingga akuntansinya juga mestinya memiliki perbedaan. Salah seorang yang bergelut dengan sector usaha kecil dan koperasi Thoby Mutis menyatakan betapa akuntansi konvensional tidak bias diandalkan untuk membantu perusahaan UKM dan perusahaan yang tidak terdaftar di pasar modal. Akuntansi untuk UKM dan koperasi harus memiliki sifat dan ciri tersendiri.
h.Siapa Mengawasi Siapa
Permasalahan lain yang juga sering dihadapi di masyarakat adalah masalah siapa yang mengawasi akuntan. Akuntan yang sering juga dinilai sebagai profesi pengawas, sering dipertanyakan siapa yang mengawasinya? Kita dihadapkan pada pertanyaan filosofi yang telah lama: “ Quis custodiet custodies? Siapa yang mengawal pengawal, yang menjadi polisi bagi polisi, yang mengontrol pengontrol, yang mengawasi pengawas?
i.Jim Peterson
Dalam sebuah artikelnya di International Herald Tribune tanggal 18-19 November 2006 halamn 17 dengan judul yang sangat provokatif “ An Auditor’s Cry for Love? Saya terjemahkan dengan “Auditor yangminta disayangi?” Jim Peterson mengemukakan isu yang sangat kritis yang selam ini sudah menjadi buah bibir masyarakat, tetapi tidak pernah dijadikan isu formal dalam profesi, yaitu apakah jasa akuntansi selam ini dalam menyajikan informasi keuangan masih bermanfaat?
Beliau mengemukakan pada awal November 2006 th Big Four ditambah dua lembaga besar, yaitu :
1. Deloittee
2. Ernest & Young
3. KPMG
4. Pricewaterhouse Coopers
5. Grant Thornton
6. BDO

1 komentar: